Si Kuning Dan Lampu Ajaib

Si Kuning dan Lampu Ajaib | Cerpen
Cerpen

Si Kuning dan Lampu Ajaib

Sebuah kisah tentang keberanian dan cahaya

🐥

Di sudut sebuah kandang kecil yang hangat, seekor anak ayam berbulu kuning bersih menatap sebuah bola cahaya yang menggantung tepat di atasnya. Ia belum punya nama — belum ada yang sempat memberinya — tapi dalam hatinya yang sekecil biji jagung, ia menyebut dirinya sendiri: Si Kuning.

Dunia Si Kuning belum seluas sayap induknya. Baru tiga hari ia mengenal udara luar telur. Lantainya pasir, atapnya kayu, dan mataharinya — ya, mataharinya — adalah sebuah lampu pijar bulat yang selalu menyala, siang maupun malam.

"Itu bukan matahari," kata Abang Abu, anak ayam di sebelah kirinya, yang bulunya berwarna kelabu dengan bercak hitam di punggung. Abang Abu sudah lahir sehari lebih awal, dan merasa dirinya jauh lebih bijak. "Itu cuma lampu. Manusia yang menyalakannya."

Si Kuning menolehkan kepala mungilnya. "Tapi rasanya hangat seperti matahari."

"Hangat bukan berarti matahari," balas Abang Abu sambil mengais pasir mencari remah.

Tapi Si Kuning tak peduli. Setiap pagi — atau yang ia kira pagi, sebab lampunya tak pernah padam — ia berdiri tepat di bawah cahaya itu, merentangkan dua sayap kecilnya yang belum bisa terbang, dan menikmati hangatnya. Baginya, lampu itu bukan sekadar alat. Lampu itu adalah teman pertamanya.

"Kau tidak takut kepanasan?" tanya adik kecil di sebelah kanan, si Berbulu Kecokelatan yang selalu grogi.

"Tidak. Selama aku tidak menyentuhnya langsung, aku aman. Lagipula, tanpanya, kita semua kedinginan."

Suatu sore, manusia datang dan membawa lampu itu sedikit lebih jauh ke atas. Kandang terasa lebih redup, dan suhu turun satu dua derajat. Abang Abu langsung berjalan ke pojok, menggigil.

"Matahari kita pergi," katanya dengan nada dramatis.

Si Kuning justru melangkah maju ke tengah kandang. Ia memejamkan mata. Masih terasa hangat, meski samar. Masih ada, pikirnya. Hanya perlu lebih dekat dengan tengah.

Pelan-pelan, satu per satu, anak-anak ayam yang lain mengikutinya berkumpul di bawah lingkaran cahaya yang lebih kecil itu. Tubuh mereka berdesakan, bulu-bulu halus saling bersentuhan, dan panas pun menjadi lebih terasa — bukan hanya dari lampu, tapi dari tubuh satu sama lain.

Abang Abu akhirnya ikut juga, meskipun tanpa mengakui bahwa Si Kuning yang benar.

Malam itu, saat semuanya tertidur dalam tumpukan bulu yang lembut, Si Kuning masih terjaga sebentar. Menatap bola cahaya di atasnya. Cahaya yang tak pernah bertanya siapa kamu, dari mana kamu, atau apakah kamu cukup kuat. Cahaya yang cukup ada — dan itu sudah lebih dari cukup.

Si Kuning memejamkan matanya.

Besok, ia akan tumbuh sedikit lebih besar. Bulunya akan berubah perlahan. Suatu hari nanti, ia mungkin akan tahu matahari yang sesungguhnya — yang terbit di timur dan tenggelam di barat, yang hangat tapi tak bisa dipeluk.

Tapi malam ini, di bawah lampu pijar yang setia bersinar, Si Kuning merasa cukup.

Tamat
Catatan Penulis Cerpen ini terinspirasi dari foto nyata tiga anak ayam yang baru menetas, berdiri di bawah lampu pemanas di kandang mereka. Si Kuning di tengah — dengan matanya yang tajam dan bulu halusnya yang bersih — tampak seolah sedang merenungi dunia yang baru saja ia masuki. Terkadang, kehangatan terbesar datang dari hal yang paling sederhana.
Cerpen Fiksi Hewan Cerita Pendek Inspiratif

Komentar

Postingan Populer